|
Siapa Yang Dilatih Sebanyak 12 orang pelatih dari setiap daerah-MBE telah dilatih di Problinggo sebagai pelatih inti untuk menjalankan program Manajemen Berbasis Sekolah di kabupatennya. Mereka terdiri atas 6 orang khusus untuk melatih SD-MI dan 6 orang khusus untuk SMP-MTs. Mereka didampingi dua orang dari Dinas Pendidikan di setiap kabupaten yang akan mengelola dan memonitor pelaksanaan program MBS.
Perumusan Ciri-Ciri Manajemen Berbasis Sekolah Salah satu unsur pelatihan adalah peserta membahas ciri-ciri sekolah yang baik dalam hal manajemen sekolah, peran serta masyarakat, dan pembelajaran. Para peserta lokakarya dari setiap kabupaten telah merumuskan pendapat mereka setelah melakukan pengamatan ke beberapa SD dan SLTP di Probolinggo. Di bawah ini adalah hasil peserta dari kabupaten Pati mengenai ciri-ciri manajemen sekolah.
Ciri-Ciri Manajemen Yang Mengacu pada MBS :
- Visi dan misi dirumuskan bersama oleh Kepala Sekolah, Guru, unsur siswa, Alumni, dan Stakeholder.
- Ada Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) yang mengacu pada visi dan misi yang telah dirumuskan.
- Penyusunan RAPBS sesuai dengan RIPS yang disusun bersama oleh kepala sekolah, guru, dan komite sekolah secara transparan.
- Terwujudnya otonomi sekolah yang ditandai kemandirian dan dinamika sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
- Pengambilan keputusan dilaksanakan secara partisipatif dan demokratis.
- Terbuka menerima masukan, kritik, dan saran dari pihak manapun demi penyempurnaan program.
- Mampu membangun komitmen seluruh warga sekolah untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan.
- Pemberdayaan seluruh potensi warga sekolah dalam mencapa tujuan yang telah ditetapkan.
- Terciptanya suasana kerja yang kondusif untuk peningkatan kinerja sekolah.
- Mampu memberikan rasa bangga kepada semua pihak (warga masyarakat dan sekolah)
- Ada transparansi dan akuntabilitas publik dalam melaksanakan seluruh kegiatan.
(Hasil pembahasan peserta pelatihan pelatih dari Kabupaten Pati)
|
PAKEM – Pembelajaran Kontekstual
Tujuan utama program MBS adalah peningkatan mutu pembelajaran. Untuk itu, para pelatih telah dilatih dalam hal PAKEM yang biasanya disebut pembelajaran kontekstual di SLTP. Pembelajaran lebih menekankan pengembangan kemampuan anak melalui ‘learning by doing’ (belajar melalui berbuat)
Selain mendiskusikan ciri-ciri pembelajaran aktif, para peserta telah mengembangkan kegiatan belajar mengajar dan melakukan praktik mengajar di beberapa SD dan SLTP di Probolinggo.
Pelajaran yang dilaksanan oleh peserta pelatihan benar-benar mengesankan. Di hampir semua kelas, mereka berhasil merancang kegiatan yang menarik minat siswa dan mendorong mereka untuk berinteraksi dan berpikir. Beberapa anak minta pembelajaran sejenis ini diterapkan setiap hari! Beberapa gambar dan cerita tentang praktik mengajar dicantumkan di bawah ini.
Praktik Mengajar di SLTP Wonomerto 1
Penekanan pembelajaran aktif adalah memberikan lebih banyak kegiatan yang dikerjakan siswa. Pada saat anak mengerjakan kegiatan tersebut peran guru lebih sebagai fasilitator untuk mebantu dan membimbing siswa.
|